suarasukabumi.net–SUKABUMI, Harga plastik di sejumlah pasar rakyat di Kabupaten Sukabumi mengalami kenaikan signifikan dalam beberapa pekan terakhir. Kondisi ini terpantau oleh Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Sukabumi saat melakukan pemantauan di pasar-pasar binaan.
Kepala Dinas Perdagangan Kabupaten Sukabumi, Dani Tarsoni, mengatakan kenaikan harga terjadi hampir pada seluruh jenis plastik yang beredar di pasaran.
“Pantauan kondisi hari ini di pasar-pasar binaan kami, di pasar rakyat di kabupaten, seluruh harga plastik naik luar biasa. Jadi ini kalau kita coba investigasi kepada pedagang, mereka bercerita tentang pasokannya dari sananya sudah tinggi,” ujarnya, Senin (27/4/2026).
Menurut Dani, lonjakan harga tersebut diduga dipengaruhi oleh pasokan bahan baku yang sebagian besar masih bergantung pada impor. Ia juga menyebut kemungkinan adanya dampak dari kondisi global.
“Mungkin juga imbas Hormuz sudah sampai ke kita. Tapi paling logis karena bahan-bahan plastik kan semuanya impor dan ini mempengaruhi harga yang lain-lainnya,” katanya.
Selain harga, ketersediaan plastik di tingkat pedagang juga mulai berkurang. Hal itu dipicu tingginya harga dari distributor atau pemasok.
“Pedagang yang memang langsung ke plastik sudah mulai berkurang. Ya karena memang harganya di tempat distributornya atau di pemasoknya tinggi,” ucapnya.
Dari hasil pemantauan, kenaikan paling terasa pada plastik jenis kresek serta produk plastik konsumtif lainnya seperti gelas plastik.
“Kresek yang selalu jadi kantong-kantong itu, terus hampir semua produk plastik di pasar, seperti gelas-gelas juga,” jelasnya.
Kenaikan harga ini mulai dirasakan dalam dua hingga tiga pekan terakhir. Bahkan, berdasarkan pantauan sementara, lonjakan harga mencapai sekitar 70 persen dari harga awal.
“Minggu yang lalu itu naiknya rata-rata 70 persen. Misalnya kresek yang sebelumnya sekitar Rp18.000 bisa sampai Rp28.000 per satuan,” ungkap Dani.
Kondisi tersebut turut berdampak pada pelaku usaha, termasuk UMKM di Sukabumi. Meski demikian, aktivitas ekonomi dinilai masih berjalan dan daya beli masyarakat relatif terjaga.
“Ya pastilah ada dampaknya. Paling tidak bahan baku mereka jadi agak naik harganya. Sementara ekonomi kita masih bisa berjalan, daya belinya masih bisa kita pertahankan,” katanya.
Disdagin mengaku terus memantau perkembangan harga melalui interaksi rutin petugas dengan para pedagang di pasar.
“Petugas kami di lapangan di pasar selalu berinteraksi dengan para pedagang, dari situlah informasi itu kami dapatkan,” ujarnya.
Sebagai langkah awal, Disdagin mengimbau masyarakat dan pelaku usaha untuk mulai mengurangi penggunaan plastik serta beralih ke bahan yang lebih ramah lingkungan.
“Kita imbau, hari ini kita harus go green. Penggunaan plastik sedapat mungkin dikurangi. Bisa diganti dengan goodie bag dari kertas atau bahan lain yang lebih mudah didaur ulang,” kata Dani.
Ia menambahkan, meski belum ada program khusus terkait penggantian plastik, masyarakat didorong untuk mulai menggunakan alternatif lain seperti kertas, bambu, hingga daun.
“Beralih ke jenis lain, dari kertas, dari bambu, bahkan daun,” pungkasnya.
Tim.
Suara Sukabumi